PEMBUKTIAN
PEMBUKTIAN
Oleh Muhammad Fajri, M.Pd.
Kita hidup di dunia ini kadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, terkadang juga ada yang meremehkan. Akan ada orang-orang yang menilai dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Akan ada orang-orang yang senang menilai orang lain hanya dari penampilan luar.
Saat kamu menghadapi situasi semacam itu, adalah wajar untuk merasakan kecewa dan mungkin marah karena mereka telah salah paham denganmu. Pastikan dirimu tidak menjadi berkecil hati ketika menerima perlakuan semacam itu. berpikirlah bahwa diremehkan orang lain bisa menjadi hal bagus.
Seperti itulah yang dialami oleh Bagas, seorang remaja yang berumur 17 tahun. Dia anak yang pandai dan berprestasi di sekolahnya, namun dia juga merasa tidak cukup menguasai ilmu dunia saja. Maka dia belajar ilmu agama juga dengan seorang Ustadz, mulai dari baca Iqro, sholat, dan hal-hal dasar Islam lainnya. Bahkan Bagas tidak puas, dia ingin menghafal Al-Qur'an karena dia menganggap bahwa pentingnya menghafal Al-Qur'an untuk dirinya.
Dalam tempo dua tahun dia sudah hafal dua juz, yaitu juz 30 dan 29. Karena kemampuannya yang pintar, maka sang Guru, yaitu Ustadz Fulan memberikan amanat kepada Bagas untuk menjadi imam.
"Bagas, bentar lagi bulan ramadhan, nanti kami siap-siap ya, kamu akan menjadi imam sholat teraweh, dan menjadi imam cadangan kalau ada petugas sholat yang tidak hadir", ucap Ustadz Fulan.
Bagas dengan rasa yang setengah percaya diri, dia mengatakan "iya ustadz insya Allah siap".
"Nanti kamu bacanya jangan terlalu panjang Gas, surah An-Naba untuk 4 rokaat saja", ucap Ustadz Fulan.
"Baik ustadz", jawab Bagas.
Kemudian sampailah di hari dimana Bagas menjadi imam, kebetulan pada saat itu Bagas menjadi Imam di malam ke-1, dikarenakan pak ketua DKM masjid menyuruhnya. Setelah selesai menjalankan tugasnya Bagas merasa senang karena itu adalah pengalaman berharga bagi dia, spesialnya lagi itu disaksikan ayah ibunya serta banyak jamaah yang hadir, baik di lantai ke-1 dan ke-2 masjidnya full.
Namun selang beberapa hari, Bagas mendapatkan komentar negatif dari beberapa orang dengan berbagai macam komentar.
"Wah imamnya masih bocah ya"
"Imamnya sok banget, baca surat, harusnya surat pendek aja"
Bagas saat itu merasa sedikit kesal sekaligus merasa bersalah, namun ustadz Fulan menyemangati Bagas agar tetap bersabar, itu hal biasa menghadapi komentar orang.
Di tahun berikutnya, Bagas masih dipercaya gurunya untuk menjadi Imam sholat teraweh, namun belum boleh menjadi imam pada sholat 5 waktu karena pak ketua DKM belum menyetujuinya dikarenakan usianya masih muda.
Di tahun ke-3, Bagas mulai dipercaya menjadi Imam sholat 5 waktu. Terkadang menjadi imam subuh, Maghrib atau Isya. Namun ada beberapa orang yang tidak menyukai Bagas, bahkan ada satu orang yang terang-terangan tidak menyukai Bagas, ketika Bagas menjadi imam, Bapak tersebut rela keluar dari Shaf dan pulang kerumah.
Ketika ditanya oleh Ustadz Fulan, kenapa bapak tersebut selalu pulang ketika Bagas menjadi Imam. Alasannya sangat tidak masuk akal dan menggelikan, yaitu karena Bagas "belum punya istri", alias belum menikah.
Namun Ustadz Fulan tetap menyuruh Bagas untuk menjadi Imam walaupun ada orang yang tidak suka. Bagas sebagai pemuda merasa perlu menambah hafalannya, di tahun ke-3 sempat terhenti menghafal, namun karena kesadaran sendiri Dia melanjutkan Hafalan dia di tahun ke-4. Alhasil total hafalan Bagas menjadi 11 juz.
Dan di tahun ke-4, karena kesabaran Bagas menerima ujian dan ejekan dari komentar yang negatif dari orang lain dan terus meningkatkan hafalannya, akhirnya dia berhasil menjadi Imam Masjid di daerah rumahnya, dan orang - orang yang tidak menyukai Bagas, lambat laun mulai menerima Bagas.
Komentar
Posting Komentar