Melawan Kemustahilan


Melawan Kemustahilan
By Muhammad Fajri, M.Pd.

Abdullah adalah seorang anak pondok pesantren. Dia belajar di Pondok Pesantren Tahfizul Qur'an Izzatul Ummah, sekarang memasuki usia 14 tahun. Saat itu dia sudah berada di kelas 9 tingkat SMP sederajat. Dia adalah salah satu santri yang hobi bermain futsal, dan nampaknya beliau mempunyai bakat di bidang itu, sehingga ketika ada jam bermain, beliau selalu bersemangat serta menikmati.

Suatu ketika, Ustadz Aji, selaku wakil kurikulum di pondok pesantren memberitahu info pengumuman bahwa Pondok Pesantrennya akan mengikuti sebuah ajang perlombaan di Sekolah Islam Terpadu Barokah. Dari banyaknya ajang perlombaan, pondok pesantren dia hanya mengirimkan empat ajang saja yaitu, futsal, Basket, Da'i dan Tahfizhul Qur'an. Kemudian Ustadz Aji mengumumkan nama-nama santri yang akan mengikuti lomba tersebut. Nama Abdullah disebut untuk mewakili lomba futsal tingkat SMP.

Seketika wajah Abdullah berseri-seri, ditambah lagi teman-teman baiknya ikut disebut untuk ajang lomba futsal tersebut. Ustadz Aji menunjuk Abdullah langsung sebagai kapten. Pada saat itu Abdullah merasa itu adalah tanggung jawab yang berat, terlebih ini adalah keikutsertaan pertama kali Pesantrennya dalam mengikuti lomba.

Ustadz Aji sebagai koordinator lomba, langsung memberikan instruksi kepada Abdullah untuk latihan karena waktu lomba hanya tiga pekan lagi. Sepekan berselang, Abdullah menghampiri Ustadz Aji dan bertanya:

"Ustadz, apakah kami tidak ada pelatih professional langsung yang melatih kami?"

"Tidak ada Dul, pondok kita belum cukup uang untuk menyewa pelatih, kalian latihan mandiri saja, insya Allah bisa, karena kalian sudah saling pengertian satu sama lain, karena sudah sering bermain" jawab Ustadz Aji.

Ustadz Aji memang bukan pemain futsal atau bola kaki professional. Dia hanya sekedar memiliki hobi tentang itu. Dia bukan tidak mau mendampingi santri latihan, namun dikarenakan ada kewajiban yang lain, maka Dia tidak bisa mendampingi. Abdullah dan kawan-kawan hanya berlatih mandiri dan sparing dengan kakak kelas mereka yang tingkat SMA.

Hari demi hari, sampailah pada hari H-1 sebelum lomba. Ustadz Aji bertanya kepada Abdullah,

"Gimana Dul apakah semuanya siap besok, jangan lupa bawa perlengkapan futsal besok ya?"

"Insya Allah kami siap ustadz", jawab Abdullah.

"Jangan khawatir, target kita tidak tinggi-tinggi, yang penting kita jangan kalah di ronde pertama saja", sambung Ustadz Aji.

"Tapi kami ingin juara ustadz, kami ingin bawa trofi itu kesini." Sambung Abdullah.

"Insya Allah, yang penting kita berusaha saja, hasil serahkan kepada Allah, kalah atau menang semuanya sudah takdir Allah Subhanahuwata'ala." Tutup Ustadz Aji sambil memegang pundak Abdullah.

Besok harinya, semua tim dan official siap untuk berangkat ke Sekolah Islam Terpadu Barokah. Semuanya merasakan sedikit gugup, dikarenakan ini adalah lomba pertama bagi Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an (PPTQ) Izzatul Ummah.

Singkat cerita, dimulailah giliran tim PPTQ Izzatul Ummah bertanding, sebelum bertanding mereka pemanasan dulu, kemudian berdoa serta melakukan Tos-tosan. Tos-tosan mereka adalah "Bismillah Izzatul Ummah Juara......". Di pertandingan pertama Alhamdulillah mereka berhasil menang dengan skor yang cukup mencolok yaitu 8-1 melawan tim Ibnu Fallah.

Di ronde kedua, mereka bertemu tuan rumah, yaitu SIT Barokah. Ustadz Aji berpesan agar tidak perlu gugup dengan tuan rumah, dimana tuan rumah langsung didukung oleh banyak supporternya sendiri. Singkat cerita dimulailah pertandingan. Pertandingan awal-awal dalam tempo yang sedang saja, tidak terlalu cepat. Namun sayang, wasit memberikan kartu kuning kepada Abdullah dikarenakan dia ketahuan memang gelang. Ustadz Aji langsung berteriak ke Abdullah:

"Dul....... (Sambil memberikan gestur nunjuk ke kepada Ustadz Aji sendiri), yang artinya Abdullah disuruh berpikir, jangan berbuat kesalahan.

Tempo pertandingan semakin panas ketika tim tuan rumah memprovokasi tim Izzatul Ummah, dengan perkataan-perkataan kotor. Tim Izzatul Ummah, tidak terprovokasi, dikarenakan skor mereka sudah unggul 2-1. Ustadz Aji mencoba menangkan dengan memberikan gestur kepada tim yang artinya harap bersabar, tenang. Puncaknya ketika Abdullah mencetak gol ketiga, Dia memberikan gestur ejekan kepada pemain tuan rumah yang memprovokasi tadi, maka sedikit terjadi keributan antar pemain tersebut, pada akhirnya wasit memberikan kartu kuning kepada masing-masing pemain, dan sekaligus menandakan bahwa Abdullah mendapatkan kartu merah (karena sudah mendapat dua kartu kuning). Alhasil Dia keluar dalam keadaan sedih dan harus absen di semifinal apabila lolos. Akhirnya Ustadz Aji memutar otak agar bisa setidaknya mempertahankan skor di babak pertama ini, dengan memasukkan Hafiz untuk menyeimbangkan pertahanan. Dikarenakan di peraturan futsal, tim yang kekurangan pemain akibat kartu merah pertama, bisa bermain komplit lagi (5 orang) di babak kedua. Namun untuk Abdullah tidak boleh masuk lagi ke lapangan karena sudah kartu merah. Singkat cerita akhirnya Tim Izzatul Ummah berhasil menang dengan skor meyakinkan, yaitu 6-1.

Pertandingan di semifinal, Tim Izzatul Ummah masih menghadapi tuan rumah kembali, dikarenakan tuan rumah mengirim dua tim dalam lomba ini. Dipertandingan semifinal ini tidak terlalu banyak drama. Pertandingan berjalan fair, akhirnya Tim Izzatul Ummah masuk final dengan mengalahkan tuan rumah dengan skor 3-1.

Masuklah pada partai puncak, tim Izzatul Ummah bertemu dengan SMP Sang Surya, dimana tim tersebut adalah salah satu tim terkuat yang ikut di perlombaan ini, karena bisa dilihat dari pertandingan-pertandingan sebelumnya yang menang dengan skor mencolok. Ya, ini adalah final pertama bagi tim Izzatul Ummah, yang awalnya hanya menargetkan jangan kalah di ronde pertama, namun Allah memberikan rezeki sampai partai final.

Ketika pertandingan mau dimulai, semuanya berkumpul. Ustadz Aji memberikan arahan dengan tegas,

"Santri dengarkan! Kita sudah sampai final, kalian harus habis-habisan di partai ini. Tutuplah lomba ini dengan manis!!!" Ucap Ustadz Aji.

Kemudian mereka semuanya tos-tosan dengan semangat mereka berteriak "Bismillah.... Izzatul Ummah.... Juara......".

Pertandingan dimulai dan di babak pertama Izzatul Ummah tertinggal terlebih dahulu dengan skor 1-0. Terlihat sekali wajah tegang dari Ustadz Aji, namun Dia berusaha untuk tenang. Kemudian Ustadz Aji bilang ke santri.

"Hey, tenang!, waktu masih panjang!", teriak Ustadz Aji. 

Kemudian tidak lama berselang mereka berhasil menyamakan skor menjadi 1-1 bahkan membalikkan keadaan menjadi 2-1. Ketika sudah unggul, tim Sng Surya bermain agak kotor. Saat kiper dari tim Izzatul Ummah ingin menangkap bola lambung, dengan liciknya pemain Sang Surya mendorong kiper tim Izzatul Ummah dan bola masuk ke gawang. 

Lantas Ustadz Aji berteriak ke wasit, 
"Wasit.... Pelanggaran itu karena ada dorongan...."

"Iya pak saya juga lihat itu pelanggaran". Jawab wasit.

Akhirnya gol tersebut tidak di sahkan oleh wasit. Menit demi menit dilalui, akhirnya Yudi menambah gol yang ketiga untuk Izzatul Ummah. Skor sekarang menjadi 3-1. Ketika wasit meniupkan peluit tanda berakhirnya pertandingan. Semua pemain, official, pelatih, dan para supporter masuk kelapangan untuk menyambut kemenangan mereka.

Bagiamana tidak, betapa mengharukannya moment itu, tim baru yang mengikuti lomba pertama kali, tim yang tidak terdengar darimana asalnya, membuat sebuah kejutan di publik, khususnya di daerah sekitar situ. Air mata haru, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang terjadi. Karena tim ini tidak ada pelatih professional, tidak ada lawan uji coba, belum pernah mengikuti lomba sama sekali, pada akhirnya mereka berhasil membuat sejarah baru di pondok pesantren mereka. Dan buat Ustadz Aji, itu merupakan sebuah kenangan yang manis yang pernah di alami Dia dan itu menjadi tropi pertama untuk Pondok Pesantren Izzatul Ummah.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghadapi Orang Yang Sering Mengejek/Mengolok Kita

Adab – Adab bermain Bola dan Futsal dalam Pandangan Islam

Bagaikan Tersengat Listrik